![]() |
'We Are One' Team |
Dalam
memperingati hari jadi yang kelima, Backpacker Jakarta kembali menyuguhkan
beragam acara menarik, salah satunya adalah Amazing Race (AMR). Apa sih Amazing Race itu? Kalau kamu suka nonton acara Running
Man di Korea maka AMR ini tidak jauh berbeda yaitu games menyelesaikan beberapa
tantangan. Hanya saja dengan versi
Backpacker Jakarta. Perlu ditekankan kata ‘backpacker’ yaa. Kenapa? Karena kita dituntut untuk seminim mungkin mengandalkan
uang.
![]() |
Berkumpul di Kota Tua |
Museum
Seni Rupa dan Keramik di Kota Tua menjadi titik kumpul acara AMR yang diikuti
61 tim dengan 1 tim
beranggotakan 3 orang. Aku bersama Rifkey dan Ochan tergabung dalam group ‘We
Are One’. Rules pada AMR ini yaitu 1 tim hanya diperbolehkan membawa 1 handphone dan kita harus melalui beberapa pos dengan titik akhir di La Piazza,
Kelapa Gading. Istimewanya kami hanya diberikan uang saku 30 ribu. Solusinya?
Hitchhike alias nebeng.
Acara dimulai jam 08.00. Kami membuka amplop yang berisi petunjuk untuk ke Pos 1. Mendapat
informasi dari salah satu petugas di Kotu, kami langsung meluncur untuk
hitchhike ke Museum Sasmita Loka Ahmad Yani di daerah Menteng. Aku segera menulis kata-kata yang menarik
perhatian.
TOLONG! Boleh numpang? Semoga yang kasih
tumpangan dapet PAHALA.
Beberapa
menit berlalu, sebuah mobil berhenti untuk menjemput
pahala. Driver mobil online
bernama Bapak Bagus bersedia memberi tumpangan ke Museum Ahmad Yani. Persis di depannya. Tanpa
bayaran sepeserpun. Tak lupa kami berterima
kasih dan mendoakan Bapak Bagus agar mendapat balasan rejeki yang barokah.
![]() |
Menumpang driver mobil online |
Dalam setiap pos kita harus menjawab pertanyaan edukatif
tentang sejarah. Bukan dengan googling tapi dengan mencari informasi di dalam
museum. Berhasil menjawab satu pertanyaan, kami berhak mendapatkan bendera yang
nantinya akan diperhitungkan sebagai penilaian pemenang.
Amplop berisi clue menuju Pos 2 cukup membuat kami
bingung. Akhirnya kami memutuskan menuju Museum Sumpah Pemuda. Naas, kali ini
kita tak jua mendapatkan tumpangan setelah berjalan sekitar 3,3 km. Dan tahukan kamu? Sesampainya di Museum Sumpah Pemuda dengan kaki yang
semakin gontai dan cucuran keringat, ternyata kami salah pos. Museum
Pemuda adalah tempat berkumandangnya lagu Indonesia Raya untuk pertama kali.
Sedangkan konsep lagu Indonesia Raya dibuat di Museum M.H. Thamrin. Fiuuuuh.. Kami berjalan lagi sejauh 1,5
km.
Di Pos 2 kami diharuskan menunjukkan yel-yel. Untung saja
sebelumnya kami sudah mempersiapkan lagu dan gerakannya. Tantangan masih sama
berupa menjawab pertanyaan seputar sejarah. Selesai dari Pos 2, kami segera
menuju Pos 3 yang ternyata Museum Sumpah Pemuda yang sebelumnya salah kita
datangi. Di perjalanan kami bertemu dengan bapak-bapak bermobil pick up.
Mendapat anggukan persetujuan untuk nebeng,
aku senang bukan kepalang. Sampailah kami di Pos 3.
![]() |
Menumpang Mobil Pick-Up |
Di pos 3 ini kami masih dengan semangat mengeluarkan
yel-yel We Are One. Tidak sampai 10 menit, tantangan berupa menjawab pertanyaan
sejarah selesai. Jam menunjukkan pukul 13.00, perutku sudah berdendang sedari
tadi. Kami mengisi energi dari makanan yang sudah disiapkan panitia.
Merasa sudah kembali kuat, kami turun ke jalan kembali. Tujuan terakhir yaitu La Piazza, Kelapa Gading dengan uang 30.000 untuk 3 orang. Di tengah teriknya kota Jakarta, kami tak hentinya memasang kertas dan mengacungkan jempol tanda meminta tebengan. Selang beberapa menit, bajaj biru dengan sopir seorang bapak berbatik berhenti. Alhamdulillah kami dapat tumpangan lagi. Bapak baik hati ini bernama Bapak Wasrun. Semoga saja bapak Wasrun diberikan balasan rejeki atas kebaikannya hari ini. Kami diantar sampai Pasar Senen.
![]() |
Menumpang Bajaj |
Berjalan menyusuri jalan area Senen di bawah teriknya
matahari membuatku benar-benar lemas. Bayangkan dengan kondisi seperti itu ada
penjualan es degan tapi apa daya uang saku sebisa mungkin tidak terpakai. Ngenes bro!
Alhamdulillah berjalan dengan selalu melihat ke arah
datangnya kendaraan membuahkan hasil. Sebuah ambulance bertuliskan Mayapada
Hospital menepikan kendaraannya. Asiiiiik,
kami dapat tumpangan sampai ke La Piazza karena Mayapada Hospital memang sedang
dalam perjalanan menuju ke sana sebagai salah satu sponsor acara ulang tahun
BPJ. Aaaaaah senangnyaaaaaa!!! Mau
tahu bagaimana rasanya kalau kita mendapat tumpangan? Rasanya
itu seperti kamu mendengar adzan maghrib
setelah puasa seharian tanpa sahur. Pasti senang, kan?
Menumpang Ambulance |
Menjadi pemenang bukan satu-satunya alasan aku mengikuti acara Amazing Race 2018 ini. AMR telah mengajarkanku bagaimana bisa survive dalam keterbatasan. Tanpa uang sepeserpun kami bisa mencapai tujuan. Acara yang begitu mengasyikkan bukan? Tentunya untuk kalian yang menyukai tantangan dan tidak bermusuhan dengan panas matahari. Oh salah. Kali ini kota Jakarta begitu hangat. Hangat karena masih banyak orang baik di tengah ibu kota yang kejam dengan segala individualis dan materialisnya. Semoga kebaikan selalu menghampiri mereka yang dengan jiwa ikhlas mengulurkan bantuan. Terima kasih untuk hari ini 😊
2 Comments
kereeeennnn kak
ReplyDeleteTerima kasih sudah berkunjung, Kak! 😀
Delete