Jumat, 29 Desember 2017

Kebun Raya Bogor, Wisata Murah Meriah yang Wajib Dikunjungi



  
Tahukah kamu? Tahun lalu Bogor meraih predikat The Most Loveable Sustainable City loh. Sayang rasanya kalau tinggal di Bogor dan sekitarnya tetapi belum berwisata ke Bogor. Nah, mengisi liburan dadakan di akhir Desember kali ini, aku bersama teman dan kedua adikku akan menyambangi salah satu landmark Bogor yang cukup populer, Kebun Raya Bogor (KRB).


Berangkat dari Citayam, aku memesan tiket kereta pulang pergi Citayam – Bogor. Sedikit tips, hindari membeli tiket di Stasiun Bogor karena antreannya yang selalu panjaaaang. Dari Stastiun Bogor, aku memutuskan berjalan kaki sambil melihat-lihat bangunan di sepanjang jalan seperti Taman Topi, Sekolah Budi Mulia, Gereja Katedral dari jaman Belanda, SMPN 1 Bogor dan SMAN 1 Bogor yang cukup tua, dan Gereja Zebaoth atau yang dikenal dengan Gereja Ayam. Setelah jalan kaki sekitar 30 menit, sampailah aku di Pintu Utama. Tiket masuk untuk wisatawan lokal adalah Rp 14.000 dan Rp 25.000 untuk wisatawan mancanegara. Khusus untuk anak di bawah 4 tahun tidak dikenakan biaya. Oke, mari berkeliling di Kebun Raya Bogor!


Kebun Raya Bogor didirikan oleh Prof. Dr. C.G.C. Reinwardt tahun 1817. Wah, sudah 2 abad yaa! Dengan luas 87 hektar, wisatawan harus pandai-pandai mengenal lokasi mana yang ingin dituju. Di dekat Pintu Utama ada peta wisata yang membantu wisatawan dalam menjelajahi KRB ini. Nah, apa saja sih tempat menarik dalam perjalananku kali ini? Penasaran? Yuk monggo disimak.

Monumen Lady Raffles
Bangunan bersejarah ini sukses membuatku baper. Kenapa?  Di monumen ini terdapat prasasti berisikan puisi dari Olivia Mariamne Raffles,  istri dari Sir Thomas Raffles, Letnan Gubernur Inggris di pulau Jawa.

Oh thou whom neer my constant heart
(Kamu yang selalu berada di hatiku)

One moment hath forgot
(Tak pernah sedikitpun kulupakan)

Tho fate severe hath bid us part
(Walaupun takdir memisahkan kita)
Yet still – forget me not
(Janganlah pernah lupakan aku)

Benar saja. Takdir yang akhirnya memisahkan mereka. Lady Raffles meninggal dunia karena malaria dan menghabiskan 6 bulan terakhirnya di Istana Bogor. Sebagai wujud cinta sejatinya pada Lady Raffles, Sir Thomas Raffles mendirikan Monumen Lady Raffles ini. 



Danau Gunting
Danau Gunting berada di sebelah kanan Jalan Kenari 1. Suasananya begitu sejuk. Banyak pohon rindang dilengkapi dengan bangku taman untuk menikmati suasana. “Mbak inaa, itu itan banyaaaak sekali,” kata adik kecilku yang gembira melihat banyak ikan di danau ini. Berjalan sedikit menuju Istana Bogor, hamparan bunga Teratai Merah Muda begitu memanjakan mata.
 

 

Istana Bogor dan Prasasti Reinwardt
Istana Bogor merupakan salah satu dari enam istana kepresidenan RI yang kerap digunakan untuk menyambut tamu negara. Pada era kolonial bernama Buitenzorg yang berarti ‘di luar kekhawatiran’. Walaupun pengunjung hanya melihat dari pekarangan belakang Istana Bogor, hal itu sudah cukup menggambarkan betapa megah dan indahnya bangunan putih ini. Tak jauh dari belakang pekarangan istana tersebut, terdapat sebuah prasasti yang didedikasikan untuk Georg Karl Reinwardt, seorang ahli Botani Jerman pendiri Kebun Raya Bogor.




Makam Belanda
Komplek pemakaman tua sejak jaman Belanda ini merupakan makam dari beberapa keluarga dekat Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Dengan bentuk nisan, ornamen, dan tulisan yang menarik membuat wisatawan lokal sampai mancanegara ikut mengabadikan tempat bersejarah tersebut. Di sisi lain, suasana horor disini cukup kental. Mungkin karena lokasinya yang sepi dan dikelilingi rimbunnya pohon bambu.



Tugu Teysmann dan Taman Teiysmann
Kamu mau foto yang instagramable? Nah, Taman Teysmann cocok untuk menghasilkan foto-foto yang ketjeh. Taman ini ditata secara apik dengan jalan setapak dari bata merah. Di sisi kiri kanan terdapat rumput hijau yang menyegarkan mata, dan juga terlihat pemandangan berupa pohon palm yang berjajar rapi.



Di sini pula terdapat sebuah tugu bernama Tugu Teysmann yang dididirikan untuk mengenang jasa Johannes Elias Teysmann. Ia adalah seorang ahli botani yang mempunyai andil besar dengan mengumpulkan ribuan spesies tanaman dalam masa jabatannya sebagai direktur Lands Plantentuin (Kebun Raya Bogor).


Jalan Kenari I
Jam makan siang sudah tiba. Aku kembali lagi ke Jalan Kenari I yang berada di antara Gerbang Utama dan Istana Bogor. Di sisi kanan Jalan Kenari 1 dari Istana Bogor, banyak taman dengan pohon rindang yang cocok sebagai tempat menyantap bekal dari rumah. Adikku tak henti-hentinya lari kesana kemari menikmati areal kebun yang luas ini.

  




Museum Zoologi
Nah, kalau kalian membawa anak kecil, rasanya Museum Zoologi wajib dikunjungi. Di sini terdapat koleksi satwa yang diawetkan maupun berupa replika dari jenis burung, reptil dan amfibia, moluska, ikan, serangga, hingga kerangka ikan paus biru yang panjangnya mencapai 26 meter. Tentunya museum ini menjadi wadah untuk mengenalkan berbagai jenis fauna ke anak-anak kita (kelak).



Taman Meksiko
Wajar saja kalau dinamakan Taman Meksiko karena KRB mengusung konsep gurun di Meksiko yang gersang. Tanaman yang berada di area ini berupa kaktus , yucca, agave, dan tanaman sekulen lainnya. Tanaman sekulen merupakan tanaman yang tahan pada kekeringan.





Jembatan Gantung
Sudah menjadi rahasia umum, jembatan gantung yang dikenal dengan nama Jembatan Pemutus Cinta ini menantang adrenalin. Bukan karena tingginya, bukan. Tetapi karena mitos yang dipercaya masyarakat jika pasangan jalan bersama-sama menyeberangi sungai Ciliwung di jembatan ini, nantinya akan berakhir dengan perpisahan. Berani coba?


Jalan Astrid dan Taman Astrid
Jalan Astrid dibangun untuk menyambut kedatangan Ratu Astrid asal Belgia. Layaknya seperti Ratu Astrid yang cantik, Taman Astrid juga memberikan kesan yang tak kalah cantiknya. Areal rumput hijau yang luas ditambah dengan bunga tasbih (disebut juga dengan nama Canna Hybrida atau Kana Hias) berwarna merah dan kuning di sepanjang jalan, membuat wisatawan rasanya tak ingin beranjak dari tempat ini. Sebelum mencapai Jalan Astrid, aku juga menyempatkan diri melihat pohon besar, salah satunya pohon Ceiba Pentandra atau disebut Kapuk Randu asal Amerika.






Ecodome
Wahana baru KRB yang disebut sebagai ‘rumah masa depan’ ini  merupakan hadiah dari pemerintah Belanda dalam rangka memperingati dua abad KRB. Berdasarkan info dari liputan6.com di dalam Ecodome terdapat teknologi canggih seperti mendaur ulang air hujan hingga pemanfaatan sinar matahari. Sayang sekali, kali ini aku kurang beruntung karena hari sudah sore dan wahana ini sudah ditutup. Hayati syedih bang! Eitss, ndak papa toh aku masih bisa berfoto ria di depan bangunan hitz. Hehehe.



Seharian sudah aku bersama teman dan kedua adikku mengelilingi Kebun Raya Bogor. Untung saja Si Kecil enggak nangis macam Hachi yang mencari ibunya hehe, enggak ngeluh kecapean, malah terlihat excited banget. Dan saat melihat smartphone, “Waaaw.. 24.222 langkah untuk hari ini!”. Walaupun lelah, rasanya hari ini begitu berkesan. Dengan wisata murah meriah, aku bisa menyaksikan peninggalan sejarah dan juga mengenalkan adikku tentang keistimewaan KRB.

Banyak orang yang bilang, “Yaah di Kebun Raya Bogor ada apa sih? Paling cuma pohon-pohon gitu doang” Nah, dengan tulisan ini semoga bisa menggambarkan Kebun Raya Bogor amat layak mengisi liburan kalian, apalagi buat kalian yang sudah berkeluarga.
Jadi kapan mau berkeluarga? Ehh, kapan mau main ke Kebun Raya Bogor?

Jumat, 08 September 2017

Berburu Jembatan Pulau Kalong, Gunung Kidul



Berbicara mengenai destinasi wisata Yogyakarta memang seakan tak ada habisnya. Di berbagai sudutnya menyuguhkan panorama yang memikat para wisatawan. Begitu pun dengan daerah tenggara Yogyakarta, Gunung Kidul. Daerah yang terkenal dengan surganya pantai.

Senin, 04 September 2017

Bahagia Disana, Pak !



Masih jelas terbayang saat idul fitri kemarin, aku ngotot ingin foto keluarga. Ya.. kami berenam, aku, ibu, bapak, dan ketiga adikku. Saat itu tak terpikir bahwa itulah foto keluarga kami yang pertama dan yang terakhir.

Rabu, 23 Agustus 2017

Fakta VS Mitos dan Tips Survive di Gunung (Backpacker Jakarta dan RS Firdaus)





Di tengah tren naik gunung yang semakin meningkat beberapa tahun belakangan ini, terkadang kurang dibekali dengan pengetahuan pendakian yang memadai (termasuk saya sendiri). Maka dari itu, segeralah saya mendaftar acara yang diadakan Klub Buku dan Blogger Backpacker Jakarta yang didukung oleh Rumah Sakit Firdaus dengan mengusung judul “Membongkar Fakta dan Mitos tentang Pendakian Gunung”.

Rabu, 07 Juni 2017

Mudik Motoran Rasa Nano-Nano



Kala itu di masa libur lebaran 2016.....


Kharin, masih ada niat mudik naik motor gak?”
Wah lu mau mudik motoran mas? Gue kalo diajak ya dengan amat sangat senang hati mas.

Begitulah kira-kira percakapan gue dan Mas Tri di pertengahan Juni 2016. Mas Tri, temen sekampus dan teman mendaki yang kebetulan teman satu kampung juga, nawarin mudik naik motor. Setelah minta restu dari berbagai pihak, akhirnya tanggal 3 Juli 2016 kami mengawali cerita baru ‘mudik motoran’. Aseeeeek (sambil joget-joget).

Kamis, 25 Mei 2017

Kiat-Kiat Menghidupkan Bulan Ramadhan



Allah telah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 185, yang artinya :
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan batil).

Rabu, 22 Februari 2017

Tersadar pada Kenyataan


Langit mendung memeluk hati yang murung
Mata nanar pandangan samar-samar
Ketika raga terseok di sudut
Entah kemana perginya jiwa yang kalut

Selasa, 21 Februari 2017

Terdiam, Merenung, dan Tersenyum

Terdiamlah seseorang itu..
Bagaimana mungkin sang petangguh yang selalu bahagia dengan kesendirian,
tetiba berkawan dengan sesuatu yang mereka sebut 'rindu'

Jumat, 17 Februari 2017

Menjemput Keberuntungan di Gunung Sumbing


Pendakian Gunung Sumbing via Garung bersama Backpacker Jakarta


Seorang mahasiswa UMY meninggal dunia karena terjatuh saat pendakian di Gunung Sumbing pada 21 Januari 2017. (Sumber : http://news.liputan6.com)


Catat!!! Cuaca masih buruk, tunda pendakian sampai April nanti !! (Sumber : account IG @sindoro_sumbing pada 2 Februari 2017)

Minggu, 29 Januari 2017

Kopdar dan Baksos Backpacker Jakarta #8 di Sekolah Bersama




“Alhamdulillah. Luar biasa. Allahu Akbar”

Suara lantang serempak khas anak-anak menggelegar saat Kak Echy menanyakan kabar mereka. Penuh semangat dan kepercayaan diri. Begitulah Kak Echy mengawali kelas di Sekolah Bersama yang berada di daerah Jatipadang, Pasar Minggu. Kami dari Backpacker Jakarta (BPJ) RT 8 berkesempatan untuk mengadakan acara baksos di Sekolah Bersama.