Indahnya Mengandungmu



Kabar Bahagia

“Mas, ini hasilnya. Maaf ya”, kataku menyodorkan alat test kehamilan sambil menyimpan senyum.

“Enggak apa-apa sayang belum rejeki,” kata mas suami menenangkan.

“Loh sebentar. Ini serius? Beneran?” katanya setelah membaca kembali petunjuk di kemasan bahwa 2 garis merah menandakan positif hamil.

Ia mendekapku penuh haru. Aku? Bahagia diikuti rasa yang campur aduk. Ada ketakutan menyelimuti. Apa benar seorang anak manjanya ibuku akan mengemban tugas besar? Apa siap aku menghadapi dunia baru dengan segala pernak-perniknya? Apa mampu anak kemarin sore ini mengurus titipanNya? Dan beragam pertanyaan lainnya. ⠀

"Loh, kalau kamu sudah dipercaya Allah, tandanya kamu sudah siap, rin!" Sisi lain diriku mengingatkan.

Aku pun flashback ke beberapa hari sebelum kabar bahagia ini, untuk pertama kalinya aku larut dalam doa. "Kalau memang menurut Engkau aku sudah siap menerima titipanMu, maka mohon tunjukkanlah. Kalau memang belum, mohon kuatkan dan sabarkanlah kami dalam penantian."

Dan setelah tersadar, akhirnya aku pun berucap "Bismillah, insyaAllah aku siap!"

Garis Dua

Trimester Satu

Untuk pertama kalinya, aku dan mas melihat janin melalui USG. Bulatan hitam seukuran strawberry menghuni rahimku. Senyum sumringah bersarang di wajah pasangan suami istri ini. Foto USG tersebut menjadi penyemangat mas suami yang akan melalui karantina dalam Diktuk Polhut dan aku yang akan menjalani Latsar CPNS.



Kegiatan Latsar nyatanya cukup menguras tenaga dan pikiran. Dalam kondisi yang mengharuskanku untuk selalu berhati-hati menjaga jabang bayi, aku berkewajiban mengikuti ritme diklat yang sangat padat dan disiplin. Oh ya saat Latsar aku punya kebiasaan aneh loh. Mengendus parfum salah satu teman laki-laki di kelas. Aku pun berdalih, Ini bawaan orok. Jangan-jangan anak gue cewek lagi.

Latsar CPNS di Bogor

Tak lama selepas Latsar, aku konsultasi kandungan diantar teman Latsarku, Mifta. Mas suami? Masih menjalani Diktuk. Kontrol kali ini aku mencoba jadwal malam sehingga dokter yang ku temui bukan dokter biasanya. Saat itulah aku pulang dengan wajah lesu.

"Dok bagaimana apa bayi saya sehat?"

"Saya tidak bisa memastikan bayi ibu sehat atau tidak, yang pasti bayinya HIDUP."

Jleb. Tak adakah kata yang lebih halus dari itu kalaupun memang usia janin masih muda dan belum terlihat organnya. Pikiranku kemana-mana, takut kalau ada kelainan pada anakku. Semua ibu pasti tak hanya menginginkan bayinya hidup tapi juga sehat dan normal. 

Walaupun begitu, pada akhirnya aku mampu melewati Trimester 1 dengan kondisi fit. Dan yang terpenting masa-masa yang kata teman-temanku adalah masa rawan keguguran telah dilalui.


Trimester Kedua

Pasca drama omongan pedas dokter sebelumnya, aku kembali konsultasi dengan dokter langganan. Alhamdulillah, ia menjelaskan dengan sangat rinci bagaimana kondisi bayiku. Sehat. 

Aaa, dokter terbaik emang. Udah ramah, baik, murah senyum, muda dan ganteng lagi. Upps, jangan-jangan dedeknya cewek mas hehe, kataku kepada mas suami yang menimpali dengan senyum tipis dan geleng-geleng kepala.



Pada awal trimester kedua ini, ketidaknyamanan mulai muncul. Dari pinggang pegal, napas sedikit berat, susah makan (padahal biasanya aku tipe pemakan segala), sering pusing diikuti dengan 'uwek-uwek'. Tapi di masa ini adalah masa yang masih ditolerir untuk bepergian jauh karena trimester 1 masih rawan dan trimester 3 takut melahirkan di perjalanan.

Pada usia kehamilan 5 bulan, aku yang tak bisa diam ini, menyambut hangat ketika berkesempatan mengurus keuangan lapangan dalam kegiatan hujan buatan di Sumsel. 

"Dek kita dinas ke Palembang sekalian ketemu bapak ya," ucapku sambil menatap perut yang kian maju. 

Naas, seminggu pertama disana, mas suami malah dinas ke perbatasan Palembang-Jambi. Aku pun super riweuh mengurus pekerjaanku. Lucu sih, sudah menginjak tanah yang sama, masih saja sibuk dengan dunia masing-masing hingga pertemuan menjadi harga mahal untuk kita berdua. Selepas mas suami bebas dari jadwal patroli, alhamdulillah kita masih bisa menyusuri beberapa malam di bawah lampu kota Palembang. Yaa anggap saja pacaran sebelum cinta kita terbagi ke buah hati.

Di akhir Oktober, mungkin dedek mulai memberi sinyal kalau kita harus kembali karena mesin di tubuh yang sudah butuh rehat. Sinyal berupa mual hingga adegan kepeleset sudah menjadi alasan kuat untuk mas mengusirku pulang hehe. Maksudnya ia khawatir aku kenapa-kenapa. 

Oh ya semasa di Palembang, aku getol makan mangga muda. Heran sih, aku bisa sebegitu lihainya nyemil mangga asem level dewa tanpa muka meringis. Yaa.. namanya juga bumil kan hehe.



Di akhir November, debay diajak jalan-jalan lagi. Mungkin ini menjadi perjalanan jauh terakhirku sampai melahirkan nanti. Malang pun menjadi kota tujuan dalam rangka menyelesaikan urusan kantor. Setelah urusan kantor selesai, aku dan kedua rekanku menuju Dino Park yang berisi beragam wahana. Disitulah aku menyadari telah melakukan kebodohan. Aku mencoba wahana Dino Action Naga Cloning, semacam kereta di istana boneka hanya saja ada jalur turunan tajam. Harusnya sedikit berbahaya buat bumil. Aku hanya berdoa semoga dedek baik-baik saja.

Setelah setengah hari mencoba wahana ini itu, jalan kesana kemari, aku pun masih fit. Sambil mengelus perut aku mencoba berinteraksi, "Dedek seneng ya diajak jalan-jalan bareng tante-tante." Kedua rekanku hanya meledek, "Hmm.. Itu mah emaknya aja yang seneng jalan-jalan." 




Trimester Tiga

Trimester III adalah masa-masa yang menggemaskan. Bagaimana tidak, seringkali aku dikagetkan dengan gerakan kencang si kecil yang tiba-tiba, terkadang seperti sensasi perut dikelitik dari dalam. Biasanya diikuti dengan aku yang mulai komat-kamit, "Hayoo dedek gerak-gerak mau diajak ngobrol ya sama ibu?"

Di masa ini, makan pun sudah lebih enak, drama mual hanya hitungan jari. Hanya saja, ucapkan selamat datang untuk nyeri punggung, dada sesak, tidur yang mulai tak nyenyak. Bantal tumpuk satu, dua kemudian tiga. Miring ke kiri tak enak, ke kanan apalagi. 

Oh ya saat hamil, salah satu makanan favoritku ialah LELE. Apalagi setelah membaca artikel bahwa kandungan protein dalam lele bagus untuk pertumbuhan janin. Makin menjadilah aku. Hingga akhirnya aku stop makan lele. Weyooo? Karena si tulang ikannya bergelantung di kerongkongan. Sampai-sampai untuk mengambilnya aku harus ke klinik. Hehe.


Di awal Januari, aku berencana USG 4D. Lagi. Karena USG sebelumnya posisi debaynya malu-malu, jadilah mukanya tertutup tangan. Khusus kali ini, aku mengadakan briefing agar dedek narsis saat diUSG.

"Dedek sayang. Nanti kalau ada alat yang gerak-gerak di perut ibu, kamu langsung action yaa. Pose yang lucu-lucu, yang narsis ya sayang. Ini USG 4D terakhir karena besok-besok udah enggak ideal buat USG 4D. Lagipula kalo kamu malu-malu enggak keliatan mukanya, sayang uangnya. Mubadzir. Kan dedek tau nyari uang susah, nanti yang narsis ya sayang."

Suamiku ketawa cekikikan mendengar dari dapur.

Dan lihatlah! Anak penurut ini akhirnya narsis juga. Puluhan pose lucu berhasil diabadikan. Dan menjadi penyemangatku, membuat segala keluh menjadi luruh.



20 Februari 2020 menjadi hari terakhir ku bekerja sebelum cuti 3 bulan. Dan dengan masih mengendarai motor walaupun perut serasa mau nempel dashboard hehe. Alhamdulillah ya Allah selama ini dedek bayi strong banget menemaniku beraktivitas kesana kemari. Sempat juga rekan kantor memanggilku Mamak Hulka. Berasal dari kata Hulk, superhero yang kuat.

Sekarang saatnya menanti sebuah pertemuan mendebarkan. Bismillah semoga kelak proses persalinan ku lancar. Aamiin.



To be continued...

0 Comments