10.11.18
Sabtu ini gravitasi kasur tak sehebat biasanya. Jelas saja, aku akan ke Bandung untuk menonton Konser 11:11 Fiersa
Besari X Kerabat Kerja sekaligus berjumpa dengan sahabat SDku, Via. Pagi-pagi
sekali aku sudah bersiap menuju Stasiun Gambir dengan antusias.
Antusias berlebihan ternyata tidak dibarengi dengan perencanaan
perjalananku. Di menit-menit terakhir aku baru sadar kalau stasiun
keberangkatan adalah Stasiun Senen, bukan Gambir. Untungnya kepanikanku
teratasi dengan aplikasi GPS dan ojek online. Yaa.. walaupun sempat panik kembali karena driver ojol yang lama sampai
tapi akhirnya jam 08.55 aku sudah mendarat di kursi penumpang.
“Sendirian, Kak?” kataku mengawali obrolan dengan penumpang di depanku.
Obrolan berlanjut disusul dengan perkenalan. Hana namanya, lulusan
psikologi UI. Ia ke Bandung untuk tes CPNS. Kebetulan sekali aku sudah tes awal
November kemarin dan bisa berbagi pengalaman. Syukur-syukur apa yang ku
sampaikan bermanfaat.
Di sela-sela perbincangan asyik kita, pemuda di sebelahku jatuh. Iya
jatuh, disertai air mengalir di dagunya. Bukannya kasihan, aku dan Hana menahan
tawa. Pemuda tadi langsung ke toilet, entah malu entah mau cuci muka. Aku dan
Hana pun langsung memuntahkan tawa yang sudah ditahan-tahan. Jahat.
Jam 12.50 kereta sampai di Stasiun Cimahi. Pertemuan aku dan Hana ditutup
dengan bertukar kontak sosmed, selfie, serta berjabat tangan. Inilah yang seru
dari suatu perjalanan. Bertemu dengan orang baru.
![]() |
Bersama Hana |
![]() |
Pemandangan serba hijau di perjalanan menuju Cimahi. Tips : pesan seat D/E karena viewnya lebih bagus |
Via sampai di stasiun sesaat sebelum hujan mengguyur Cimahi. Kami pun menunggu
di bangku stasiun sembari mengobrol. Cerita-cerita yang sudah menumpuk tak
sabar ingin ditumpahkan. Saat hujan reda, chit
chat time dilanjut di kosan Via.
Gerimis-gerimis syahdu tak kunjung berhenti hingga malam. Aku dan Via
hanya keluar sekali untuk mencicipi bakso tahu kuah khas Bandung. Malamnya
curhatan jodoh menjadi topik hangat, ditemani cemilan nasi dan ayam goreng yang
dipesan online.
11.11.18
Dingin. Begitulah hawa Cimahi kali ini. Untuk menghangatkan perut, Via
mengajakku sarapan Bubur Ayam SM Ceu Endut. Lokasinya di Jl. Rumah Sakit
Dustira No. 104, Cimahi. Lapak pun sudah dipadati pembeli, dari yang makan di tempat ataupun dibungkus.
![]() |
Bubur Ayam SM Ceu Endut |
Aku memesan bubur dengan telor asin dan Via dengan ati ampela seharga 15k/porsi.
“Hmmmmm!” kataku geleng-geleng
saking enaknya, meniru adegan
presenter acara kuliner. Pantas saja ramai pembeli, rasanya enak bukan main.
Kuah buburnya itu loh, gurih,
tapi bukan dari gurih MSG. “Maknyoooos!”
Open gate Konser 11:11 Fiersa
Besari X Kerabat Kerja masih jam 17.00. Mumpung di Bandung, Via mengajakku jalan-jalan di sekitar Alun-alun Bandung karena memang banyak tempat instagrammable.
![]() |
"Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum" - M.A.W. Brouwer |
![]() |
"Dan Bandung bagiku bukan hanya masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi" - Pidi Baiq |
![]() |
Bersama Via, sahabat sedari SD |
![]() |
Narsis di Alun-alun Bandung |
Merasa cacing di perut sudah berdendang, kami meluncur ke tempat makan yang tak jauh dari Alun-alun. Setelah 300 meter berjalan, tampak warung kopi bergaya vintage bertuliskan Warung
Kopi Purnama. Warung kopi ini
berada di Jalan Alkateri No. 22,
Braga, Bandung. Telah berdiri sejak 1930 dan tetap mempertahankan sisi 'tempo dulu' membuat warung kopi ini
begitu mengesankan. Di
dinding ruangan depan terdapat berbagai foto dari jaman sebelum kemerdekaan. Masuk
ke ruangan lainnya, terdapat foto-foto pemilik dari generasi pertama hingga
ketiga.
Tak hanya dekorasi yang memanjakan mata, sajian yang ku pesan pun memuaskan lidah. Aku pesan kwetiau dan kopi susu. Untuk penyuka kwetiau, rasa di sini begitu enak. Belum pernah kutemui yang seenak ini. Kopi susunya pun nikmat dengan komposisi yang pas. Oh iya di sini ada menu B2 tapi menurut penuturan waitress kalau masaknya dipisah, jadi aman kok untuk tamu muslim.
Harga pesanan kita belum termasuk tax and service:
- Kwetiau: 32k
- Roti dadar keju: 23k
- Kopi susu panas: 16k
- Teh susu panas: 15k
![]() |
Tampak luar Warung Kopi Purnama |
![]() |
Warung Kopi Purnama tempo dulu |
![]() |
Narsis di warung kopi vintage, Warung Kopi Purnama |
Tak hanya dekorasi yang memanjakan mata, sajian yang ku pesan pun memuaskan lidah. Aku pesan kwetiau dan kopi susu. Untuk penyuka kwetiau, rasa di sini begitu enak. Belum pernah kutemui yang seenak ini. Kopi susunya pun nikmat dengan komposisi yang pas. Oh iya di sini ada menu B2 tapi menurut penuturan waitress kalau masaknya dipisah, jadi aman kok untuk tamu muslim.
Harga pesanan kita belum termasuk tax and service:
- Kwetiau: 32k
- Roti dadar keju: 23k
- Kopi susu panas: 16k
- Teh susu panas: 15k
Kami berlanjut kembali
menuju Masjid Raya Bandung yang terletak di depan Alun-alun. Hingga Ashar hujan
tak jua berhenti. Untung saja, Via menjadi teman nekatku. Ia bersedia menemani
temannya yang ‘gila’ ini, karena begitu ngebet mau nonton konser Fiersa Besari.
Cuaca Bandung kali ini
memang sedang tidak bersahabat. Pagi cerah, sore membuat gundah. Akhirnya kami
berperang melawan hujan berselimut dingin di atas sepeda motor milik Via.
Semata-mata demi bertemu langsung dengan Bung, melantunkan lagu-lagu favorit, plus
bonus selfie dengan Bung.
Setelah menanti beberapa jam di antrean masuk dan bangku penonton, akhirnya sekitar jam 7 malam Fiersa Besari X Kerabat Kerja keluar dari balik penggung. Tak lupa
dengan sambutan histeris dari penonton yang telah rela merangkul hujan.
![]() |
Akhirnya melihat Bung dari dekat, bernyanyi bersama |
Kenapa sih aku begitu ingin menonton Konser 11:11? Jadi, berawal dari
hanyutnya aku dalam tokoh Kasuarina dan Juang di buku Catatan Juang, akhirnya
membawaku pada pilihan untuk melepaskan rutinitas yang membuatku tak nyaman.
Hal tersebut menyisakan rasa kagum dengan Juang, lebih tepatnya sang penulis sekaligus musikus, dan pengelana bernama Fiersa Besari. "Seperti ABG" begitu sebutan teman-temanku. Wajar saja, aku yang mendadak mendengarkan dan menyanyikan lagu-lagunya entah di kantor atau kosan, memantau cuitan-cuitan yang kadang menyentil, berlama-lama di Youtube sambil senyum-senyum melihat segala hal tentang Bung. Hingga demi konser ini, aku meluncur ke Bandung untuk menghadiri peluncuran Album Buku dalam konser 11.11. Oke, lupakan tentang candaan dari teman-teman. Yang penting aku pernah merasakan berteriak menyanyikan lagu-lagu Fiersa Besari X Kerabat Kerja di tengah wajah-wajah berseri.
Sayang, hari sudah malam. Kami
pulang setelah
menyanyikan lagu favorit “Waktu yang Salah” dan sebelum sesi foto
bersama plus tanda tangan buku-buku Fiersa Besari. Padahal sedari berangkat,
aku sudah menenteng Catatan Juang dan Garis Waktu untuk ditandatangani. Tapi
tak apa. Nyatanya tak mengurangi
rasa bahagiaku malam ini. Mungkin masih bisa bertemu di lain waktu.
![]() |
Ini ekspresiku selama acara konser, maafkan daku yang mendadak jadi ababil :) |
Di perjalanan pulang, aku tersenyum. Dua hari yang berkesan. Dua hal
yang mengesankan.
Pertama, aku bisa melepas kangen dengan Via. Sahabat yang satu ini
sudah ku kenal sejak di bangku SD. Tahun 2000 kala itu. Tak banyak yang berubah dari sosoknya.
Ia selalu menginspirasi, membahagiakan orang tercinta dengan prestasi. Aaah..
aku senang bukan main, sampai detik ini kita masih bisa berbagi cerita, berbagi
pengalaman, dan berbagi semangat.
Dan yang kedua, aku telah tuntas menyelesaikan inginku untuk bertemu
dan bernyanyi bersama Fiersa Besari X Kerabat Kerja yang akhirnya menutup malam
ini dengan begitu sempurna. Jam
01.20 kereta Cimahi-Jakarta melaju. Aku pulang. Datang ke Bandung dengan antusias, kembali dengan rasa puas.
Sampai jumpa, Bandung!
Sampai jumpa, Bandung!
![]() |
Menuju pulang, Cimahi-Jakarta |
4 Comments
👍🏻👍🏻👍🏻
ReplyDeleteKamu hebat kawann
hebat apanya teman? hebat plesiran terus ditengah kerisauan haha
DeleteBubur ayam nya itu bikin ngiler parah, Wah gw harus k Bandung ., demi bubur ayam
ReplyDeleteWah enak parah to, kuahnya itu loooh.. harus dicoba kalo ke sana
Delete